Showing posts with label impian. Show all posts
Showing posts with label impian. Show all posts

Friday, 15 July 2011

Apa Mimpi Terbesar Dalam Hidup Anda?

“Sombong amat sih mimpi lo. Pake pengen keliling dunia segala. Ngaca dolo!”
http://www.loriferber.com/media/catalog/product/cache/1/image/9df78eab33525d08d6e5fb8d27136e95/i/-/i-have-a-dream.jpg
Itu adalah sebagian ungkapan seorang teman (T), ketika mendengar teman baiknya (TB) berkeinginan untuk keliling dunia. Walaupun TB adalah anak seorang petani yang miskin-uang yang didapat hanya mampu untuk memenuhi hari itu juga bahkan kurang. Namun, dia ingin menjadi seorang yang sukses dan bisa mengelilingi dunia dengan kesuksesannya itu. Dia ingin membalas dendamnya terhadap nasib ‘kurang mampu’-nya itu. Oleh karena itu dia selalu bekerja keras, tak jarang juga bekerja cerdas.

Kalau kita lihat dari contoh sederhana di atas, kita dapat menganalisis tentang kegigihan seorang anak miskin yang ingin mengubah hidupnya dan keluarganya. Apakah hal itu bisa dia lakukan? Jawabannya: SANGAT BISA!!! Lalu bagaimana kita dia merealisasikan mimpinya? Ada banyak cara yang dapat dia lakukan yang juga akan saya bagi kepada para pembaca

Ada berbagai pendapat tentang sudut pandang kita terhadap mimpi. Maksud saya adalah terkadang seseorang kebingungan dengan pernyataan yang mengatakan: “Mimpilah setinggi langit!” atau “Lihatlah kemampuan Anda dalam bermimpi.” Saya hanya memberikan 2 contoh saja yang banyak terjadi dikalangan kita. Baik pernyataan pertama atau kedua, kita tidak bisa menyalahkannya. Untuk pernyataan pertama, alasannya adalah karena mimpi itu gratis. Jadi sah-sah saja bila seseorang ingin bermimpi setinggi langit. Pernyataan kedua juga bisa kita asumsikan bahwa kalau kita bidangnya A, ya bermimpilah untuk menjadi bintang bidang A, jangan bermimpi jadi Z!
http://kebvokecil.files.wordpress.com/2009/11/my_dream_is_to_fly_by_cat_woman_amy.jpg
Beberapa hal yang perlu diperhatikan bila kita ingin mimpi kita bisa tercapai:

1. Tulis mimpi Anda! Hal ini terlihat sepele, namun kita bisa merasakan perbedaanya jika kita melakukan tips no.1 ini. Percayalah bahwa tulisan mimpi-mimpi kita akan menjelma menjadi ‘roh semangat’ yang akan membantu kita. Ini dikarenakan alam semesta yang kita berada didalamnya akan merespons apapun yang kita tulis. Contoh: jika kita menulis “Hah, susah amat sih bikinnya!” maka apapun yang kita bikin akan terasa susah. Begitu juga sebaliknya. Jangan lupa, mimpi Anda harus jelas, sejelas-jelasnya.

2. Bayangkan mimpi-mimpi Anda sebelum tidur! Lakukan setiap hari 5-10 menit saja. Semakin dalam kita membayangkan, semakin kuat kita dapat meraihnya.

3. Yakinkan kepada diri Anda bahwa mimpi Anda bisa terwujud! Ini yang sering kita sebut dengan optimisme tinggi.

4. Jika 3 poin sebelumnya tentang konsep, poin keempat adalah ACTION kita. Beraksi dengan jalur yang sesuai dengan mimpi Anda. Jika Anda ingin menjadi seorang atlet, maka berlatihlah. Bukan malah keluyuran ke mal :P

5. Lihatlah apa yang terjadi. Berhasil atau tidaknya kita serahkan semuanya kepada pencipta kita. Tawakkal. Hal terpenting adalah kita sudah melakukan semaksimal mungkin.

Mudah-mudahan bermanfaat. Mari kita menjadi orang sukses bersama! Salam SUKSES!

Silakan tulis mimpi Anda.
http://www.fdmovie.com/wp-content/uploads/meraih-mimpi-movieposter.jpg
Sumber: MyBlog

Saturday, 17 October 2009

Danang Ambar Prabowo mewujudkan impiannya dng menulis 100 impian di kertas !



Danang Ambar Prabowo, salut untuk jejak kehidupanmu & terima-kasih atas berbagi rahasia kehidupan untuk kita semua.

Sebuah Titik Penting Hidupku: Dua lembar Kertas Usang dan 100 Mimpi Dec 27, '07 9:33 AM
for everyone

Masih teringat jelas bagaimana aku menuliskan kalimat-kalimat itu pada dua lembar kertas buram setelah tiba di kamar asrama Tingkat Persiapan Bersama di IPB sore itu. Baru saja DKM Al Hurriyah usai menyelenggarakan acara Achievement Motivation Trainer (AMT) dengan menghadirkan seorang pembicara yang sangat luar biasa, Ustadz Aris Ahmad Jaya. Sosok yang di kemudian hari banyak menginspirasiku mencapai hal-hal menakjubkan yang semula hanya terlintas di mimpi belaka.

Untuk kesekian kalinya aku dibuat begitu takjub dengan penampilan dan materi motivasi yang diberikannya.

“Banyak orang yang memiliki mimpi, namun mimpinya itu akhirnya tetap menjadi impian dan khayalan belaka. Alasannya adalah karena mereka menuliskan mimpi-mimpi mereka di dalam ingatan saja. Padahal ingatan manusia itu terbatas. Akibatnya kebanyakan dari mereka itu lupa dengan mimpinya. Dan ketika ingat kembali, waktu mereka telah habis. Dan hanya penyesalan yang dirasa.”

Demikian kurang lebih kata-kata yang beliau sampaikan sebagai pembuka materi beriringan dengan tampilan slide di layar dan backsound yang sangat menawan. Kemudian dengan setengah menghentak beliau berteriak!

“Ubah! Ubah cara pandang anda! Ubah bagaimana anda menuliskan mimpi-mimpi anda. Jangan tulis dalam ingatan anda yang terbatas, karena hal itu ibarat anda menulis di atas pasir. Ketika angin bertiup, hilanglah tulisan itu. Tuliskan secara nyata. Di atas kertas. Tuliskan mimpi-mimpi anda di atasnya. Tempatkan dimana anda akan sering melihatnya. Jika anda ragu... tulis saja 100 target yang ingin anda capai selama di IPB!”

Alunan backsound dari speaker yang memainkan musik instrumental gubahan komponis terkenal Jepang, Kitaro berjudul Koi itu seolah turut menyihir kata-kata yang beliau ucapkan hingga mampu merasuk ke dalam dada setiap peserta yang hadir. Masing-masing peserta seolah tersihir oleh suasana. Semuanya khusyuk mendengarkan kata demi kata dari Sang Trainer, termasuk diriku yang dengan serius mencatat kata-kata tersebut dalam buku catatan.

“...dan nanti anda akan lihat. Bagaimana luar biasanya Allah mewujudkan setiap mimpi-mimpi itu, jauh lebih luar biasa daripada yang bisa anda bayangkan... tuliskan segera, dan suatu hari yang akan anda lihat dari tulisan anda itu hanyalah coretan-coretan. Coretan karena anda telah mencapainya...”

Dan itulah yang aku lakukan. Di atas dua lembar kertas buram itulah aku menuliskannya. 100 target. Target-target sederhana hingga impian-impianku, tanpa banyak berpikir rumit, aku benar-benar menuliskan apa yang terlintas di pikiranku saat itu, seperti yang Ustadz Aris katakan waktu itu. Dan jadilah, 100 target itu. Aku tempel di pintu lemari bajuku hingga setiap saat aku bisa melihatnya. Ada kepuasan tersendiri ketika melihatnya. Namun tak sedikit juga yang berkomentar setiap kali melihat target-target yang tertulis di sana.

”Buat apa Nang kamu nulis repot-repot begitu”. “Sombong banget sih lo...” atau bahkan dengan nada meremehkan “Udah Nang, ini mah bukan lagi zamannya untuk bermimpi. Realistis sedikitlah”

Setelah begitu banyak komentar, akhirnya aku melepas dua lembar kertas itu dan memindahkannya di atas tempat tidurku hingga setiap akan tidur atau bangun pagi aku bisa melihatnya. Setidaknya komentar-komentar itu tak lagi terdengar setelah itu.

Aku baru benar-benar menyadari bahwa dua lembar kertas itu kini sudah begitu usangnya... usang oleh berbagai macam coretan-coretan di atasnya, dan usang oleh keringat di tanganku setiap kali memegangnya. Tapi yang pasti... kini setiap aku melihatnya kembali yang bisa aku katakan adalah: “Subhanallah...Luar biasa...”

Apa yang aku tuliskan di atas dua lembar kertas itu, yang dahulu begitu banyak orang yang mencemooh dan meremehkannya... kini... satu persatu tanpa aku sadari benar-benar terwujud. Dan benar... seberapapun luar biasanya rencana dan kalimat yang kutuliskan di atasnya... rencana Allah jauh lebih luar biasa, persis seperti yang dikatakan Ustadz Aris waktu itu.

Mahasiswa Berprestasi.. Meski awalnya hanya aku tuliskan setelah mendengar cerita Mas Anuraga Jayanegara, dan terinspirasi dari majalah-majalah mahasiswa.Ternyata... tak aku sangka aku akan bisa mencapainya, bahkan hingga tingkat nasional dan menjadi yang terbaik dari yang terbaik. Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) yang begitu bergengsi dan MTQ Mahasiswa Nasional... tak aku sangka aku bisa ke sana dengan cara-cara luar biasa dan tak terkira, padahal mulanya semua itu terinspirasi dari penuturan penuturan kakak tingkat atau teman-teman di kampus.

Setiap kali mengingat semua itu, sepenggal lirik Nasyid dari Justice Voice yang terinspirasi dari surat Ar Rahman terdengar begitu nyaring di kepalaku ”...Nikmat yang manakah lagi yang akan kau dustai, setelah begitu banyak nikmat yang Ia beri...”

Dan kini ketika menatap dua lembar kertas usang yang hampir tercerai berai itu... delapanpuluhtiga. Ya... target nomor 83 bertuliskan “Aku ingin melanjutkan sekolah keluar negeri setelah tamat IPB!”

Tapi tahukah apa yang terjadi?...semuanya seolah terulang kembali... seberapapun luar biasanya rencana yang kita buat... rencana Allah jauh lebih luar biasa...

Go to his blog:
http://danangap7.multiply.com/

Share