Showing posts with label milyuner. Show all posts
Showing posts with label milyuner. Show all posts

Wednesday, 21 March 2012

Gak Berani Mimpi? Jangan jadi Pebisnis !!


Gak Berani Mimpi? Jangan jadi Pebisnis !!


Berani, dan praktek langsung adalah modal utama untuk masuk dalam dunia entrepreneur.

Itu gan, kata2 pamungkas dari Sobat kita yang satu ini, Hendro Sugiarto, entrepreneur muda yang punya tekad untuk mandiri secara ekonomi.

Kata doi lagi gan, jangan pernah ragu untuk bermimpi. Nggak pernah ragu untuk bermimpi itu yang akhirnya membawa doi berani membangun bisnis sejak awal. Keberanian doi ini, didapet nggak secara cuma2 gan, doi cukup aktif ikut seminar dan pelatihan bisnis di berbagai tempat. Doi bahkan berani merogoh kocek yang bisa dibilang lumayan besar untuk ukuran mahasiswa. Doi pernah ngeluarkan kocek sampe Rp 800.000 untuk satu kali seminar bisnis. Lumayan ya gan, kalau beli cendol dapet berapa gelas y??hhe

Oya, ane belum kasih tau nih bisnisnya Agan Hendro...hhe. Doi punya bisnis jamur gan, budidaya dan pembibitan jamur tiram, yang doi kasih brand Saung Suung, dengan tagline Rajana Suung. Dengan bisnis jamurnya ini, doi berhasil jadi Juara Area Jabar Banten untuk kategori Distribusi di ajang Sosro Joy Green Tea Youth Business Competition 2011. Wah, hebat ya gan..!


Tekad Agan Hendro untuk menjadi entrepreuner makin kuat, pasalnya doi pingin memperbaiki ekonomi keluarga. Selain itu doi juga punya cita-cita untuk ciptakan lapangan kerja bagi pemuda-pemuda di lingkungannya. Doi yakin bahwa dunia entrepreneur adalah pilihan utama bukan alternatif. "Kebanyakan orang memilih menjadi enterpreuner karena tidak ada pilihan, namun saya ingin menjadikan dunia enterpreuner sebagai pilihan utama untuk mencari penghasilan," kata Hendro yang berusia 26 tahun ini.

Saat memulai usahanya, tahun 2009, doi memberanikan diri mengumpulkan suntikan (kayak mantri aja ya pake suntikan..hihi) modal dari sanak keluarga. Akhirnya, alhamdulillah terkumpul sejumlah uang, nggak cuma itu, doi juga dapet kepercayaan untuk mengolah lahan nganggur yang ada sekitar rumahnya di Garut. Kesempatan ini doi manfaatkan sebaik mungkin gan, doi percaya bahwa dengan memanfaatkan peluang maka akan sukses dimasa mendatang. Ane jadi punya tagline bari nih gan, “Dimana ada Peluang disitu ada Uang!!” Hhe

Dengan modal uang dan lahan tersebut doi punya ide untuk bercocok tanam Jamur Tiram. Prospek bisnis jamur ini terbilang menjanjikan, karena permintaannya banyak dari pasar trandisional hingga ke pasar modern. Selain produk jamur mentah, doi juga buka konsep kedai jamur yang menjual berbagai macam olahan jamur seperti sate Jamur, Nugget Jamur, Yogher Jamur, Paha Ayam Jamur dan lain-lain. Kreatif juga ya gan, jadi bukan sekedar jamur mentah.

Bagi agan Hendro, pengalaman mengikuti Sosro Joy Green Tea Youth Business Competition 2011 membuatnya lebih PeDe. Saat sebelum mentoring bisnis doi Cuma punya omzet Rp 400.000 perbulan. Nah setelah mentoring doi bisa meraup omset sampe Rp 23 juta perbulan. Wah, mantabz...!!

Kata agan Hendro lagi, membangun bisnis itu perlu pendampingan. Banyak enterpreuner yang membangun bisnis butuh waktu yang cukup lama, dengan jatuh bangun. Dengan adanya pendampingan, proses membangun bisnis ini bisa lebih dipercepat dan meminimalisir resiko kegagalan. Betul baget tuh Kang, ane setujuuu..!^^

Nah, itu gan, profil bisnis yang bisa ane share kali ini, Agan Hendro dengan Saung Suung-nya, kira2 apa ya gan pelajaran yang bisa kita ambil?? Apa hayoo??

Cekidot gan...!


1. Sikap Mental: BERPIKIR POSITIF, BERANI & PERCAYA DIRI. Bisnis butuh KEBERANIAN dan PERCAYA DIRI gan,kalau nggak, ya nggak bakalan jalan. Bisnis juga butuh BELAJAR dan butuh PENDAMPING bisnis biar lebih berkembang. Jadi nggak sekedar berani dan nekat ya gan.
2. Berdayakan SUMBERDAYA yang ada. Nggak punya modal nggak berarti nggak bisa bangun bisnis gan. Karena modal nggak selalu melulu uang, dan nggak mesti uang kita pribadi. Kita bisa ajak sanak keluarga dan potensi lain seperti lahan yang kita punya.
3. Manfaatkan PELUANG. Coba agan telaah (halah...sok ilmiah baget ya gan!hhhe) peluang2 apa yang ada disekitar agan, siapa tau bisa jadi bisnis yang okeh n potensi pasarnya luas.

Nah, hayo.. ada peluang apa nih yang ada disekitar agan, abis itu kolaborasikan dengan potensi yang ente punya gan..




Go Entrepreneur Indonesia
Sukseskan IBEC 2012
Ajang Berkumpulnya Entrepreneur Indonesia
www.ibecindonesia.com

Wednesday, 23 February 2011

10 Miliuner Muda Berbagi Tips Kesuksesan

Setiap tahunnya, beberapa orang berhasil menjadi miliuner baru. Kebanyakan dari mereka adalah warga negara Amerika. Yang lebih mencengangkan lagi, sebagian dari mereka sudah menjadi miliuner bahkan saat masih menjadi anak sekolahan. Visi, kecerdasan, dan keteguhan adalah 3 dari beberapa hal yang membuat mereka berhasil. Apa kata mereka mengenai keberhasilan yang mereka raih? Siapa tahu bisa Anda jadikan pegangan juga untuk menjalani rencana Anda menjadi wirausahawan:

Mark Zuckerberg

Di tahun 2007, ketika berusia 23 tahun, pria ini mengembangkan sebuah sistem yang kini sangat terkenal, Facebook. Dalam sekejap, ia menjadi salah satu miliuner paling kenamaan. Belum lagi namanya makin melambung setelah kisah suksesnya diabadikan dalam film “Social Network”. Pria ini memandang bahwa anak-anak muda itu kreatif dan memiliki kecerdasan. Ia punya harapan tinggi terhadap anak-anak muda.

Michael Dell

Di usia 19, Dell keluar dari kuliahnya di University of Texas tak lama setelah ia memulai sebuah perusahaan komputer yang menjual langsung kepada konsumen dengan harga yang lebih rendah ketimbang pesaing di ritel. Begitu ia mencapai usia 24 tahun, perusahaan yang dikenal dengan Dell memiliki pemasukan sekitar 258 juta dollar AS.

Nasihat dari pria yang kini berusia 45 tahun itu untuk para wirausahawan, “Anda harus memiliki gairah terhadap usaha Anda. Saya rasa orang-orang yang mencari ide-ide besar di luar sana untuk mendapatkan uang tidak sesukses orang-orang yang mencaritahu apa gairahnya yang terdalam untuk kemudian dibuat menjadi usaha.”

Catherine Cook

Sekarang Catherine Cook sudah berusia 20 tahun, dan selama 2 tahun terakhir ia sudah menjadi miliuner. Ia, bersama kakaknya, David dan Geoff memulai sebuah situs jejaring sosial yang populer di antara remaja Amerika, namanya myYearbook saat mereka masih duduk di bangku sekolah.

Nasihatnya bagi para pengusaha muda, “Berhentilah berpikir dan mulailah melakukan. Saat masih muda adalah waktu paling tepat untuk memulai usaha, karena belum ada tanggung jawab yang harus didapuk seperti saat seseorang mencapai usia dewasa. Yang paling parah bisa terjadi adalah Anda gagal. Tetapi Anda bisa belajar dari kegagalan dan mengubahnya menjadi keberhasilan di upaya berikutnya.”

Sean Belnick

Di usia 16, Sean sudah menjadi miliuner dengan cara menjual kursi-kursi kantor lewat online, di situs BizChair.com. Sambil menjalaninya, ia melanjutkan pendidikan di Emory University’s Goizueta Business School. Kini ia sudah mencapai usia 23 tahun.

“Tak pernah ada kata memulai terlalu cepat. Ada begitu banyak informasi yang hebat di internet. Lakukan riset dan cari cara untuk mencari tahu apa yang ingin Anda lakukan,” saran Sean.

Jermaine Griggs

Pria yang kini berusia 27 tahun ini berhasil menjadi miliuner di usia 23 tahun dengan mengejar gairahnya untuk menjadi guru musik. Situsnya, HearAndPlay.com didesain untuk membantu orang belajar memainkan piano, gitar, dan drum tanpa perlu membaca not balok. Lebih dari 2 juta pelajar mengunduh pelajarannya setiap tahun.

Kata-kata yang ia sampaikan buat para pemula, “Mengertilah kekuatan penjualan, jangan hanya mengerti siapa Anda dan ide Anda. Pelajari bisnisnya. Pelajari bagaimana orang-orang sebelum Anda berhasil menjalaninya, cari pula orang-orang yang memiliki mimpi serta aspirasi yang sama dengan Anda.”

Matt Mickiewicz

Di usia 22, ia berhasil mencapai gelar miliuner lewat 3 situs yang ia ciptakan; SitePoint, 99Designs, dan Flippa.com. Menurut Mickiewicz, internet memberikan para wirausahawan umpan balik yang langsung kepada para pelanggan, membuatnya jadi lebih murah untuk mengetes dan meluncurkan ide. Nasihatnya untuk para pengusaha muda, “Orang yang mengatakan bahwa dibutuhkan modal besar untuk mencetak banyak uang hanyalah orang yang mencari-cari alasan. Ciptakan nilai besar untuk orang lain dengan menyediakan solusi yang belum pernah ada sebelumnya.”

Juliett Brindak

Di usia 19 tahun, wanita ini sudah mencetak diri menjadi miliuner. Ia mulai menggambar tokoh-tokoh remaja perempuan sejak usia 10 tahun. Kemudian, ia menggunakan karakter-karakter tersebut dalam situsnya, MissO and Friends. Nasihatnya untuk para pemula, “Isi tim Anda dengan orang-orang yang percaya pada ide Anda. Jika ada yang mulai meragukan perusahaan Anda sebaiknya segera disingkirkan.”

Cameron Johnson

Di usia 9 tahun, ia mulai membuat perusahaan pembuatan kartu ucapan di rumahnya. Di usia 12, ia membantu saudarinya yang membuat koleksi Beanie Baby dan meraih untung sekitar 50 ribu dollar AS. Kini, di usia 25 tahun, ia sudah berhasil meluncurkan lebih dari puluhan situs. Ia bahkan memiliki acara televisi sendiri di BBC, bertajuk, “Beat the Boss”.

Nasihatnya untuk yang ingin memulai usaha sendiri, “Mulailah bergerak. Lakukan sesuatu, mulai dari kecil. Semakin kecil modalnya, semakin mudah untuk mendapatkan keuntungan. Ciptakan nilai lebih untuk orang lain, dan Anda akan mendapatkan hasil lebih.”

Wednesday, 12 January 2011

Kisah Seorang Buruh Pabrik Menjadi Salah Satu Wanita Terkaya di Dunia

Untuk menjadi kaya ada 3 cara yang bisa digunakan, dan Anda bisa pilih salah satunya, pertama Anda terlahir dari keluarga kaya sehingga secara otomatis Anda menjadi orang kaya, atau bila tidak pilihlah cara kedua yaitu nikahi orang kaya hingga Anda bisa ikut jadi kaya, tapi cara kedua ini biasanya membutuhkan modal wajah cantik dan ganteng, lalu bila kedua cara tersebut tak bisa dan bukan takdir Anda maka pakailah cara terakhir atau cara ketiga yaitu bekerja keras dibarengi berpikir cerdas, karena bekerja keras saja tidaklah cukup.

Zhang Xin saat bertemu dengan bos Microsoft Bill gates



Cara ketiga inilah yang ditempuh oleh Zhang Xin wanita yang kini menjadi salah satu wanita terkaya di dunia asal Cina, siapa sangka seorang Zhang Xin yang dulunya hanya seorang biasa-biasa tapi kini menjadi orang yang luar biasa, bagaimana kisah selengkapnya mari kita simak bersama ceritanya yang dikutip ruanghati.com dari Vivanews berikut ini.

Namanya begitu populer di China. Namun siapa sangka, ratu properti ini masa kecilnya penuh dengan kesengsaraan. Zhang Xin, sang ratu properti, menghabiskan masa kecilnya di lantai lima, rumah susun di pinggiran Beijing. Makan nasi ransum dengan mangkuk besi bersama anak-anak pekerja keras China yang lain.

Saat remaja, ia sempat menjadi buruh pabrik di Hong Kong. Bekerja 12 jam dengan shift. Saat kerja inilah, sedikit demi sedit, Zhang bisa mengumpulkan uang. Pada usia 20, Zhang telah memiliki uang cukup, dan memutuskan hijrah ke Inggris. Dia mendapatkan bea siswa di Sussex. Kemudian, dia melanjutkan di Cambridge untuk menyelesaikan gelar master.

Kini, dua dekade setelah dia bekerja keras, Zhang bisa menatap dari lantai atas salah satu bangunan paling bergaya dan bergengsi di Beijing. Itulah bangunan miliknya, yang dibangun dari keringatnya sendiri. Zhang pun menjadi salah satu wanita terkaya dunia.
Baru-baru ini majalah Forbes menurunkan profil 10 perempuan miliarder dunia yang kekayaannya dari keringat sendiri. Bukan warisan maupun hibah. Salah satunya Zhang, yang memiliki kekayaan US$2 miliar atau sekitar Rp18 triliun.



Zhang Xin memulai kesuksesan dari nol, Anda pun bisa seperti dia

Di bawah bendera SOHO, Zhang berhasil membangun kerajaan bisnis properti bersama suaminya. Dia berhasil mengubah cakrawala dari rumah beton kotor yang ia tinggali hingga 1970, menjadi gedung yang indah dan futuristik. “Pembangunan ini bertahap dan begitu lama,” kata dia kepada The Sunday Telegraph.

“Saya teringat ketika kami sedang berjuang membayar gaji dan tagihan. Bagaimana pun perusahaan harus terus bergerak meskipun dengan utang. Dengan kontrol biaya yang ketat, kami pun secara bertahap bisa mendapat keuntungan.” Meski telah sukses, dia tidak mau memamerkan kekayaannya. Penampilannya sangat sederhana. Bila menggunakan make up, tidak begitu kentara. Begitu juga dengan perhiasan, juga tidak berlebih.

Ditanya mobil apa yang dia pakai, dia ragu-ragu. Namun akhirnya menjawab. “Oh, itu Lexus. Saya tidak tahu modelnya.” Bahkan dengan triliunan rupiah kekayaan yang ia punya, Zhang tetap mempertahankan sikap hemat. Bila menggunakan pesawat, dia akan menolak menggunakan kelas satu. Padahal bagi dia, sangat mudah terbang ke mana pun dengan tiket paling mahal sekali pun.

“Ini bukan soal keterjangkauan, ini tentang hati nurani,” katanya. “Kelas bisnis ini sudah cukup nyaman.” Zhang yang sekarang berusia 45, lahir di China. Tumbuh dewasa selama paruh kedua dari Revolusi Kebudayaan (1966-1976). Dia merupakan putri generasi ketiga imigran Tionghoa yang pindah ke Burma dan kembali lagi ke Beijing pada 1950. Keluarga ini tinggal di sebuah bangunan utilitarian. Ibunya bekerja sebagai penerjemah resmi membantu menyebarluaskan pernyataan Deng Xiaoping dan Zhou Enlai. Saat sekolah, setiap siang Zhang pulang untuk makan nasi ransum dari kantin gedung itu.

“Hanya ada tiga jenis makanan, semua cukup buruk,” kenang dia. “Kami masing-masing memegang mangkuk nasi dan dibawa ke kantin. Petugas membagikan makanan dari wadah yang sangat besar,” kata dia sambil menunjuk foto pekerja konstruksi yang sedang mengantre makan di salah satu proyek bangunannya. “Rasanya seperti itu, hanya jauh lebih buruk.”

Saat itu, Zhang mengatakan, Beijing adalah kota muram. “Bangunan-bangunan itu kelabu, semua orang berpakaian abu-abu. Kami tidak pernah melihat langit. Tidak ada gagasan dari langit biru untuk sebuah kemakmuran,” katanya. “Semua orang berpakaian sama, makan sama, perbedaan antara satu orang dengan lain sangat kecil. Mungkin sama seperti perbedaan satu rambut dengan rambut lain di kepala Anda,” ujar Zhang.

Bekerja sebagai buruh pabrik di Hong Kong baginya tidak jauh lebih baik. “Itu mengerikan,” katanya. Setelah “melarikan diri” ke Inggris, pintu Zhang mulai terbuka. Dengan gelar master ekonomi pembangunan di tangannya, ia mendapat pekerjaan pertamanya di Goldman Sachs.

Pada 1994 ia kembali ke China, tergoda seperti ekspatriat lainnya yang terpikat oleh tawaran zona ekonomi khusus dan reformasi ekonomi. Seorang teman menyarankan Zhang memulai bisnis properti. Pan Shiyi namanya. Dia yang datang dari keluarga lebih miskin dari Zhang, memandang masa depan bisnis properti sangat bagus.

Empat hari kemudian, Pan mengusulkan semua ide kepada perempuan itu. Lalu mereka mendirikan SOHO. Bersama Pan yang kemudian menjadi suaminya, Zhang memulai bisnisnya pada 2007. Perusahaan ini sempat kolaps dengan utang US$1,65 miliar, namun kemudian sedikit demi sedikit utangnya bisa direstrukturisasi.